Jumat, 09 Desember 2016

Difteri Definisi Penyebab Dan Pengobatan serta Tanda Gejala Penyakit Difteri Menurut Ilmu Kedokteran

Pusatmedik.org - Difteri Definisi Penyebab Dan Pengobatan serta Tanda Gejala Penyakit Difteri Menurut Ilmu Kedokteran – Mungkin sebagian dari sudah pernah mendengar mengenai penyakit difteri. Penyakit ini termasuk berbahaya karena kalo terlambat dalam penanganannya dapat mengancam jiwa dan mudah sekali menular.
http://www.pusatmedik.org/2016/12/difteri-definisi-penyebab-dan-pengobatan-serta-tanda-gejala-penyakit-difteri-menurut-ilmu-kedokteran.html
Google Image: Difteri Definisi Penyebab Dan Pengobatan serta Tanda Gejala Penyakit Difteri Menurut Ilmu Kedokteran
Untuk beberapa daerah yang rawan terjadi penyebaran difteri, biasanya pemerintah mewajibkan warganya untuk mengikuti vaksin difteri. Mengetahui lebih lanjut mengenai difteri sangatlah penting agar anda bisa lebih mengetahui gejalanya dan bisa mengatasi secara lebih dini jika terjadi gejala-gejala difteri.

Difteri Definisi Penyebab Dan Pengobatan serta Tanda Gejala Penyakit Difteri Menurut Ilmu Kedokteran


Definisi
Difteri menyerang bagian selaput lendir di hidung dan tenggorokan dan terkadang bisa memengaruhi kulit. Penyakit difteri ini sangat menular serta termasuk infeksi serius dan dapat mengancam jiwa apabila tidak segera ditangani.

Penyebab
Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae dan juga Corynebacterium ulcerans. Adapun masa inkubasi (ketika bakteri masuk ke dalam tubuh hingga gejala muncul) difteri ini umumnya terjadi dua sampai lima hari. Sedangkan gejala-gejala yang dapat mengindikasikan penyakit difteri diantaranya meliputi:

  1. Terbentuknya membran berwarna abu-abu yang menutupi amandel dan tenggorokan.
  2. Demam dan menggigil.
  3. Sulit bernapas ataupun napas yang cepat.
  4. Sakit tenggorokan serta suara serak.
  5. Lemas dan lelah.
  6. Pembengkakan kelenjar limfa di bagian leher.
  7. Hidung beringus. Pada awalnya cair, akan tetapi lama-kelamaan menjadi lebih kental dan terkadang juga berdarah.
  8. Difteri terkadang bisa menyerang kulit serta menyebabkan bisul. Biasanya bisul-bisul tersebut dapat sembuh dalam hitungan bulan, akan tetapi biasanya meninggalkan bekas di kulit.

Segeralah periksa kan ke dokter apabila Anda ataupun anak Anda menunjukkan gejala di atas. Penyakit difteri harus diobati segera untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Diagnosis
Diagnosis awal penyakit difteri terlihat dari gejala seperti yang telah disebutkan di atas.  Dokter juga bisa mengambil sampel dari bisul atau lendir di hidung dan tenggorokan, untuk diperiksa lagi di laboratorium. Apabila seseorang diduga terkena difteri, dokter memulai penanganan dengan segera, bahkan sebelum memperoleh hasil laboratorium.

Pengobatan
Dokter menganjurkan pasien untuk menjalani perawatan di dalam ruang isolasi. Langkah pengobatan dilakukan dengan antibiotik dan antitoksin. Adapun antibiotik dapat membantu tubuh dalam membunuh bakteri serta menyembuhkan infeksi. Dosis pemakaian antibiotik tergantung dari tingkat keparahan gejala serta lamanya pasien menderita difteri.

Pada sebagian besar penderita tak akan lagi menularkan bakteri difteri sesudah meminum antibiotik dalam waktu dua hari. Aka tetapi penting sekali bagi mereka untuk terus menyelesaikan proses pengobatan jenis antibiotik sesuai dengan anjuran dokter, yaitu dalam waktu dua minggu. Kemudian penderita akan menjalani pemeriksaan di laboratorium. Apabila bakteri difteri masih ada di dalam tubuh pasien, maka dokter akan melanjutkan pemakaian antibiotik dalam waktu 10 hari.

Sedangkan untuk antitoksin berfungsi untuk membantu menetralisasi toksin atau racun difteri yang telah menyebar di dalam tubuh. Biasanya sebelum memberikan obat antitoksin, dokter biasanya mengecek terlebih dahulu apakah pasien mempunyai alergi terhadap obat jenis tersebut atau tidak. Apabila terjadi reaksi alergi, maka dokter akan memberikan obat antitoksin dengan dosis yang rendah dan dengan perlahan-lahan kemudian ditingkatkan sambil melihat bagaimana perkembangan kondisi pasien.

Untuk penderita yang mengalami sulit bernapas karena adanya hambatan yang disebabkan oleh membran abu-abu yang ada di dalam tenggorokan, maka dokter biasanya akan menganjurkan proses mengangkat membran. Sedangkan untuk penderita difteri yang memiliki gejala bisul di kulit dianjurkan untuk sering membersihkan bisul dengan menggunakan sabun dan juga air secara seksama.

Biasanya selain penderita, keluarga atau orang-orang yang ada di dekatnya juga sangat disarankan untuk segera memeriksakan dirinya ke dokter sebab penyakit ini mudah sekali menular. Petugas medis yang ikut menangani pasien difteri juga harus memeriksakan dirinya. Dokter biasanya juga akan menyarankan mereka agar menjalani tes serta memberikan antibiotik. Bahkan terkadang vaksin difteri kembali diberikan apabila memang diperlukan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan proteksi terhadap penyebaran difteri.

Komplikasi Difteri
Penanganan dan  pengobatan difteri haruslah segera dilakukan dengan tujuan untuk mencegah penyebaran dan sekaligus mencegah terjadinya komplikasi yang lebih yang serius, terutama sekali pada penderita anak-anak. Karena diperkirakan lima penderita difteri yang masih balita dan juga berusia 40 tahun ke atas meninggal dunia akibat komplikasi difteri.

Jika tak diobati dengan cepat serta tepat, toksin yang dihasilkan bakteri difteri bisa memicu komplikasi yang sangat berpotensi mengancam jiwa diantaranya meliputi kerusakan jantung, kerusakan saraf, difteri hipertoksik, dan masalah pernapasan.

Pencegahan
Langkah pencegahan yang paling efektif untuk difteri yaitu dengan melakukan vaksin. Pencegahan difteri ini tergabung dalam vaksin yang biasa disebut vaksin DPT. Vaksin ini diantaranya meliputi difteri, tetanus, serta pertusis ataupun batuk rejan.

Vaksin DPT merupakan salah satu dari kelima imunisasi yang wajib bagi anak-anak di Indonesia. Adapun pemberian vaksin ini biasanya dilakukan sebanyak lima kali saat anak berumur 2 bulan; 4bulan; 6 bulan; 1,5-2 tahun, serta 5 tahun.

Adapun perlindungan tersebut umumnya bisa melindungi anak-anak terhadap difteri seumur hidup. Akan tetapi vaksinasi ini bisa diberikan lagii pada saat anak mulai memasuki masa remaja ataupun tepatnya ketika berusia 11-18 tahun dengan tujuan untuk memaksimalkan keefektifan nya.

Bagi penderita difteri yang telah sembuh juga sangat disarankan untuk menerima lagi vaksin karena tetap mempunyai risiko untuk tertular lagi penyakit yang sama.
 
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai