Selasa, 21 Februari 2017

Inkontinensia Urine Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Inkontinensia Urine Menurut Ilmu Kedokteran

Pusatmedik.org - Inkontinensia Urine Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Inkontinensia Urine Menurut Ilmu Kedokteran - Inkontinensia urine adalah kondisi yang banyak diderita oleh orang di dunia. Untuk itu penting bagi kita mengetahui penyakit ini secara lebih banyak.
http://www.pusatmedik.org/2017/02/inkontinensia-urine-definisi-penyebab-dan-pengobatan-serta-gejala-klinis-inkontinensia-urine-menurut-ilmu-kedokteran.html
Google Image: Inkontinensia Urine Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Inkontinensia Urine Menurut Ilmu Kedokteran
Karena dengan mengetahui ini kita akan bisa mencegahnya secara lebih dini dan jika terlanjur menderita penyakit ini kita akan lebih mengetahui gejalanya dengan segera sehingga pengobatan bisa cepat dilakukan. Berikut ini bahasan tentang Inkontinensia urine, selamat membaca.

Inkontinensia Urine Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Inkontinensia Urine Menurut Ilmu Kedokteran


Definisi
Inkontinensia urine merupakan kondisi dimana urine dikeluarkan tanpa terkontrol. Adapun tingkat keparahan Inkontinensia urine sangat bervariasi, yaitu mulai dari urine merembes keluar ketika Anda batuk ataupun bersin, sampai rasa ingin sekali berkemih yang tiba-tiba sehingga membuat Anda tak sempat  ke toilet.
Inkontinensia urine dapat dibagi menjadi enam jenis, yaitu:
  1. Inkontinensia dorongan
    Penderita mengalami rasa sangat ingin berkemih hingga pasien tak mampu menahannya.
  2. Inkontinensia stres
    Urine langsung keluar ketika kandung kemih mendapatkan tekanan yang tiba-tiba seperti ketika tertawa, bersin, ataupun batuk.
  3. Inkontinensia luapan
    Kandung kemih tak mampu mengeluarkan urine dengan sempurna tiap berkemih sehingga kandung kemih membesar.
  4. Inkontinensia total
    Urine keluar tanpa terkontrol karena kandung kemih yang tak dapat menampung urine, sehingga urine langsung dialirkan keluar.
  5. Inkontinensia fungsional
    Urine dikeluarkan tanpa kontrol akibat penderita mengalami suatu gangguan kesehatan  sehingga ia tak dapat ke kamar kecil pada waktunya.
  6. Inkontinensia campuran

Gejala
Gejala dari inkontinensia urine berbeda-beda, hal ini tergantung dari inkontinensia yang dialami.
  1. Inkontinensia dorongan
    Urine bisa keluar karena perubahan posisi atau ketika melakukan hubungan seksual.
  2. Inkontinensia stres
    Urine merembes saat ada tekananan di kandung kemih, misalnya seperti batuk, bersin, tertawa keras, atau angkat beban.
  3. Inkontinensia luapan
    Pada keadaan ini, kandung kemih berisi tumpukan sisa-sisa urine sehingga urine keluar sedikit-sedikit tetapi sering.
  4. Inkontinensia total
    Merupakan kondisi yang parah di mana penderitanya sering mengeluarkan urine dengan jumlah banyak.

Penyebab
Penyebab inkontinensia urine sangat beragam. Berikut ini penjelasan mengenai penyebab kondisi inkontinensia urine sesuai jenis-jenisnya.
  1. Penyebab inkontinensia dorongan:
    minum alkohol ataupun kafein secara berlebihan, infeksi saluran kemih, konstipasi, atau kondisi kelainan saraf.
  2. Penyebab inkontinensia stres:
    adanya gangguan proses persalinan, penyakit Parkinson ataupun multipel sklerosis, obesitas, ataupun kerusakan uretra.
  3. Penyebab inkontinensia luapan:
    kandung kemih tersumbat biasanya terjadi karena pembesaran kelenjar prostat, konstipasi, adanya batu pada kandung kemih, serta terdapat kerusakan saraf.
  4. Penyebab inkontinensia total yaitu:
    kandung kemih tak mampu menampung urine umumnya kerena adanya gangguan di kandung kemih sejak bayi lahir, cedera di saraf tulang belakang, dan munculnya lubang antara kandung kemih dengan organ sekitanya, misal: vagina.
  5. Selain itu, terdapat beberapa obat-obatan yang bisa mengganggu proses penyimpanan serta penyaluran urine secara normal dan meningkatkan produksi urine. Misal: obat anti-depresan, obat HRT, obat sedatif, diuretik, dan lain-lain.

Diagnosis
Untuk mendiagnosis inkontinensia urine, biasanya dokter akan menanyakan gejala yang dirasakan serta riwayat medis, lalu melakukan pemeriksaan fisik pasien. Selain melakukan pemeriksaan fisik, biasanya dokter akan menjalankan pemeriksaan seperti:
  1. Analisis urine.
  2. Uji dipstick.
  3. Sistogram.
  4. Tes sisa urine,
  5. Ultrasonografi pelvis.
  6. Pemeriksaan urodinamik.
  7. Sistoskopi.

Pengobatan
Penanganan inkontinensia urine dibedakan dari jenis inkontinensia urine serta tingkat keparahan gejala-gejala yang dirasakan penderita. Terdapat dua jenis penanganan bagi penderita inkontinensia urine: penanganan non-bedah dan penanganan bedah.
 
Beberapa hal yang dilakukan dokter dalam menangani penderita inkontinensia urine menggunakan penanganan non-bedah, yaitu:
  1. Mengubah gaya hidup pasien
    Dokter dapat menyarankan penderita agar mengurangi konsumsi kafein, menyesuaikan berat badan pasien menjadi ideal, dan menyesuaikan kadar cairan penderita setiap hari.
  2. Memberikan alat bantu medis.
  3. Melatih otot-otot panggul bagian bawah (senam kegel).
  4. Terapi intervensi.
  5. Latihan kandung kemih.
  6. Pemberian obat-obatan seperti obat golongan antikolinergik, antimuskarinik, obat oles estrogen, atau obat penghambat alfa.
  7. Stimulasi elektrik menuju beberapa saraf.
  8. Pemasangan kateter.

Apabila penanganan non-bedah masih belum dapat mengatasi inkontinensia urine, dokter dapat mengambil tindakan pembedahan diantaranya yaitu:
  1. Prosedur plester
    Umumnya dilakukan pada wanita yang menderita inkontinensia stres. Sebuah plester plastik diikatkan pada belakang uretra, tujuannya untuk menopang uretra agar berada pada posisinya, sehingga mengurangi terjadinya kebocoran urine akibat adanya tekanan.
  2. Kolposuspensi
    Dalam prosedur ini dokter menaikkan bagian leher kandung kemih penderita, lalu menjahitnya untuk mencegah terjadinya kebocoran ketika mendapat tekanan.
  3. Prosedur sling
    Dokter memasang sling pada sekeliling bagian leher kandung kemih dengan tujuan untuk menahan serta mencegah kebocoran urine.
  4. Urethral bulking agents
    Merupakan bahan yang disuntikkan pada dinding uretra wanita. Adapun bahan ini dapat meningkatkan ketebalan pada dinding uretra sehingga menjadi lebih kuat dalam menahan tampungan urine.
  5. Pemasangan otot-otot sphincter artifisial
    Merupakan otot yang bentuknya seperti cincin dan akan selalu menutup sehingga mencegah aliran urine yang berasal dari kandung kemih menuju uretra.
  6. Sistoplasti augmentasi
    Dokter serta ahli bedah membuat kandung kemih pasien jadi lebih besar yaitu dengan menambahkan sebagian jaringan yang berasal dari usus penderita pada dinding kandung kemih. Tetapi, setelah melakukan tindakan ini, pasien hanya dapat buang air kecil lewat selang kateter.
  7. Pembedahan prolaps
    Berguna untuk menormalkan posisi organ penderita inkontinensia urine karena prolaps organ panggul.

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai