Minggu, 19 Juni 2016

Pengertian Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Penanganan Penyakit Epilepsi Menurut Ilmu Kedokteran

Pusatmedik.org - Pengertian Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Penanganan Penyakit Epilepsi Menurut Ilmu Kedokteran – Penyakit epilepsi mungkin saja sudah tak asing lagi di telinga kita. Ciri utama yang kita tahu dari penyakit epilepsi yaitu kejang. Memang kata epilepsi sendiri sebenarnya adalah istilah yang umum yang memiliki arti “kecenderungan untuk kejang”. Lebih lanjut mengenai epilepsi akan kita bahas pada halaman berikut.
 http://www.pusatmedik.org/2016/06/pengertian-definisi-penyebab-dan-pengobatan-serta-penanganan-penyakit-epilepsi-menurut-ilmu-kedokteran.html
Google Image: Pengertian Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Penanganan Penyakit Epilepsi Menurut Ilmu Kedokteran
Definisi Epilepsi
Epilepsi merupakan sebuah penyakit yang biasanya memiliki ciri yang khas yaitu ditandai dengan kecenderungan mengalami kejang secara berulang. 


Pengertian Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Penanganan Penyakit Epilepsi Menurut Ilmu Kedokteran

 
Bentuk serangan epilepsi yang paling umum yaitu kejang yang diawali dengan hilangnya kesadaran dan hilangnya kendali pada gerak serta terjadinya kejang tonik ataupun klonik pada anggota tubuh.

Penyebab Epilepsi
Penyebab epilepsi yaitu kelainan fungsional pada otak dan serangannya bersifat kambuhan. Adanya kelainan organis pada otak juga bisa menimbulkan epilepsi, sehingga adanya kemungkinan ini perlu diperhatikan. Dari pola serangannya, penyakit ini dibedakan atas epilepsi yang umum misalnya seperti epilepsi petit mal, grand mal, ataupun mioklonik dan juga epilepsi parsial misalnya adanya serangan fokal sensorik dan fokal motorik.

Gambaran Klinis Epilepsi

  1. Pada serangan grand mal biasanya dimulai dengan aura berupa sebuah rasa terbenam ataupun melayang. Penurunan kesadaran secara sementara, kepala berpaling menuju satu sisi, gigi terkatup kuat-kuat serta hilangnya pengendalian pada kandung kemih, mulut berbusa, nafas mendengkur, serta bisa terjadi inkontinesia. Lalu terjadi kejang tonik pada seluruh tubuh sekitar 20–30 detik dan diikuti kejang klonik di otot leher, otot anggota, dan otot punggung sekitar 2–3 menit. Sesudah kejang hilang maka penderita akan terbaring lemas ataupun tertidur 3–4 jam, lalu kesadaran berangsur-angsur pulih. Sesudah serangan pasien biasanya akan bingung.
  2. Untuk serangan petit mal atau serangan lena, dimulai dengan hilangnya kesadaran sekitar 10–30 detik. Saat terjadi fase lena maka kegiatan motorik akan terhenti dan pasien menjadi diam tak beraksi. Kadang-kadang terlihat seperti tidak ada serangan, akan tetapi kadang timbul gerakan klonik di mulut ataupun kelopak mata.
  3. Sedangkan serangan mioklonik adalah kontraksi singkat pada otot ataupun kelompok otot.
  4. Untuk serangan parsial yang sederhana motorik bisa bersifat kejang yang biasanya dimulai dari salah satu tangan lalu menjalar sesisi, sedangkan pada serangan parsial sensorik bisa berupa sebuah serangan rasa baal ataupun kesemutan unilateral.
  5. Untuk serangan parsial sederhana kompleks, maka penderita dapat hilang kontak dengan tempat sekitarnya sekitar 1–2 menit, lalu menggerakkan lengan serta tungkainya dengan cara-cara yang aneh serta tanpa tujuan, lalu mengeluarkan suara-suara yang tidak berarti, tidak dapat memahami apa saja yang orang lainnya katakan serta menolak bantuan. Kebingungan bisa berlangsung sekitar beberapa menit lalu diikuti dengan penyembuhan secara total.
  6. Untuk Epilepsi primer generalisata, maka penderita akan mengalami kejang sebagai sebuah reaksi tubuh terhadap adanya muatan yang abnormal. Setelah itu penderita akan mengalami sakit kepala, merasa sangat lelah, dan linglung sementara. Biasanya penderita tidak bisa mengingat apa saja yang telah terjadi selama kejang.
  7. Sedangkan status epileptikus adalah kejang yang sangat serius, yaitu kejang terjadi secara terus-menerus, tanpa berhenti. Kontraksi otot terlalu kuat, tidak dapat bernafas seperti biasanya dan muatan listrik dalam otaknya menyebar luas. Bila tidak segera ditangani, dapat terjadi kerusakan jantung serta otak yang menetap sehingga penderita dapat meninggal.

Diagnosis Penyakit Epilepsi
Diagnosis bisa ditegakkan berdasarkan dari gejala-gejala yang disampaikan orang lain yang melihat terjadinya serangan epilepsi penderita serta terdapat riwayat penyakit sebelum hal tersebut terjadi.

Penatalaksanaan Epilepsi

  1. Adapun prinsip umum dari terapi epilepsi idiopatik yaitu mencegah serangan, sedangkan untuk terapi epilepsi organik dapat ditujukan terhadap penyebabnya.
  2. Adapun faktor pencetus serangan, diantaranya emosi, kelelahan, ataupun putusnya konsumsi obat yang harus dihindarkan.
  3. Jika terjadi serangan kejang, usahakan menghindarkan cedera karena kejang, contohnya tergigitnya lidah ataupun luka dan cedera lain.
  4. Adapun langkah yang penting yaitu menjaga supaya penderita tidak terjatuh, memasang bantal pada bagian bawah kepala penderita, serta melonggarkan pakaiannya.
  5. Bila penderita tidak sadar sebaiknya posisinya dimiringkan supaya lebih mudah bernafas serta tidak boleh ditinggal sendirian hingga benar-benar sadar serta dapat bergerak secara normal.
  6. Obat-obatan anti-kejang untuk mencegah kejang lanjutan, umumnya diberikan pada penderita yang menderita kejang kambuhan. Adapun status epileptikus adalah keadaan darurat, Oleh sebab itu obat anti-kejang dapat diberikan dengan dosis tinggi yaitu secara intravena.
  7. Sebisa mungkin berikan obat tunggal serta mulai dari dosis rendah.
  8. Jika obat tunggal dosisnya maksimal dan tidak efektif lagi maka gunakanlah dua macam obat dengan dosis yang terendah.
  9. Jika serangan tidak teratasi maka pikirkanlah kemungkinan ketidakpatuhan dari penderita, adanya penyebab  organik,  pilihan  serta dosis  obat  yang  diberikan kurang  tepat.
  10. Jika selama 2–3 tahun sudah tidak muncul lagi serangan, maka obat bisa dihentikan secara bertahap.
Penderita bayi dan anak-anak diberikan:
i.v sebanyak 0,2–0,3 mg/kgBB/dosis (1mg/tahun) yang diberikan selama 3–5 menit, tiap 15–30 menit sampai dosis total maksimalnya 5 mg, lalu diulangi 2–4 jam jika perlu;
rektal untuk bayi <6 bulan, tidak disarankan; untuk <2 tahun: keamanan serta efektivitas belum diuji; untuk 2-5 tahun diberikan sebanyak 0,5 mg/kgBB; untuk 6–11 tahun diberikan sebanyak 0,3 mg/kgBB; dan untuk 12 tahun diberikan sebanyak 0,2 mg/kgBB.
 
Adapun untuk maintenance diberikan:
•Fenobarbital sebanyak 1–5 mg/kgBB/hari untuk sekali sehari
•Fenitoin sebanyak 4–20 mg/kgBB untuk 2–3x sehari

Demikian informasi tentang Pengertian Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Penanganan Penyakit Epilepsi Menurut Ilmu Kedokteran yang dapat kami sampaikan, semoga menambah wawasan anda.


Baca Juga: Definisi Pengertian Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Penyakit Gastritis Menurut Ilmu Kedokteran
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai