Selasa, 26 Juli 2016

Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Infeksi Post Partum Menurut Ilmu Kedokteran

Pusatmedik.org - Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Infeksi Post Partum Menurut Ilmu Kedokteran - Infeksi masa nifas atau infeksi setelah melahirkan merupakan salah satu penyebab tertinggi Angka Kematian Ibu Infeksi luka pada jalan lahir pasca dilakukannya persalinan, biasanya berasal dari endometrium bekas dari insersi plasenta. Adapun demam dalam nifas umumnya disebabkan oleh adanya infeksi nifas, oleh karena itu demam dalam nifas adalah gejala yang penting dari adanya penyakit ini. Selain itu demam dalam nifas juga bisa disebabkan oleh adanya pielitis, infeksi pada jalan lahir, penyakit malaria, serta tifus.
http://www.pusatmedik.org/2016/07/definisi-penyebab-dan-pengobatan-serta-gejala-klinis-infeksi-post-partum-menurut-ilmu-kedokteran.html
Google Image: Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Infeksi Post Partum Menurut Ilmu Kedokteran
Infeksi postpartum merupakan infeksi bakteri pada bagian traktus genitalia, yang dapat terjadi setelah melahirkan. Adapun morbiditas nifas dapat ditandai dengan adanya kenaikan suhu sebesar 38’ c ataupun lebih, yang dapat terjadi dalam waktu 2 hari berturut-turut, yaitu antara hari ke 2 sampai hari ke 10 postparum serta diukur minimal empat kali dalam sehari. Adapun kenaikan suhu ini dapat terjadi setelah 24 jam/sehari pasca persalinan yaitu dalam waktu 10 hari pertama pada masa nifas. Penjelasan lebih lengkap tentang pospartum dapat anda simak pada ulasan berikut.

Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Infeksi Post Partum Menurut Ilmu Kedokteran


Definisi Infeksi Post Partum
Infeksi pospatum merupakan infeksi pada traktus genitalis sesudah persalinan, yang bisa ditandai dengan adanya peningkatan temperatur suhu hingga 380C ataupun lebih yang bisa terjadi di hari ke 2 hingga 10 post partum serta diukur per oral sebanyak 4 kali sehari. Infeksi nifas sesudah pervaginam yang terutama mengenai tempat-tempat implantasi plasenta serta desidua dan juga miometrium yang ada di dekatnya.

Adapun pada sebagian kasus, muncul duh yang mengeluarkan bau, jumlahnya banyak, berdarah serta kadang-kadang berbusa. Dan pada kasus yang lain duh hanya keluar sedikit. Involusi uterus bisa terhambat. Potongan-potongan mikroskopis mungkin saja memperlihatkan lapisan bahan-bahan  nekrotik di bagian  superficial yang memiliki kandungan bakteri serta sebukan leukosit yang padat.

Saat persalinan, bakteri-bakteri yang mengkoloni servik serta vagina memperoleh akses menuju cairan amnion, serta postpartum bakteri-bakteri ini dapat menginvasi pada jaringan yang mati di tempat-tempat histerektomi. Kemudian terjadilah seluletis para metrium yaitu dengan adanya infeksi pada jaringan ikat bagian fibroareolar retroperitonium panggul. Semua ini bisa disebabkan karena adanya penyebaran limfogen ogranisme yang berasal dari tempat-tempat laserasi servik ataupun insisi/ laserasi bagian uterus yang terinfeksi. Adapun proses ini biasanya terbatas pada jaringan para vagina serta jarang meluas menuju bagian dalam panggul.

Penyebab Infeksi Post Partum
Bisa disebabkan karena adanya bakteri baik Gram negatif maupun Gram positif. Adapun sebagian besar infeksi dapat terjadi selama terjadinya proses persalinan. Di samping itu juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor predisposisi seperti : kurang gizi ataupun malnutrisi, higiene buruk, kelelahan,  anemia, proses persalinan yang bermasalah (partus lama ataupun macet, persalinan traumatik, korioamnionitis, kurang baiknya proses dalam mencegah infeksi, serta periksa dalam yang dilakukan secara berlebihan).
 
Bermacam-macam jalan kuman untuk masuk menuju  alat kandungan misalnya seperti eksogen atau kuman yang datang dari luar,  maupun autogen atau kuman yang masuk dari tempat-tempat lain dalam tubuh serta endogen yaitu dari jalan lahir. Adapun penyebab yang terbanyak serta lebih dari 50% yaitu streptococcus anaerob yang sebetulnya tidak patogen menjadi penghuni normal pada jalan lahir. Beberapa kuman yang seringkali menyebabkan terjadinya infeksi diantaranya adalah:

a.Staphylococcus aureus
Masuk secara eksogen, infeksinya lumayan sedang, banyak sekali ditemukan sebagai penyebab dari infeksi di rumah sakit serta dalam tenggorokan orang yang terlihat sehat. Kuman ini sering menyebabkan infeksi terbatas, meski kadang-kadang menjadi penyebab infeksi umum.
b.Streptococcus haemoliticus anaerobic
Masuk secara eksogen serta menyebabkan infeksi berat. Adapun infeksi ini sering eksogen (dapat ditularkan dari penderita yang lain, alat-alat mengandung hama, tangan penolong, pada infeksi tenggorokan orang-orang lain).
c.Clostridium Welchii
Adapun kuman ini memiliki sifat anaerob, yang jarang sekali ditemukan akan tetapi sangatlah berbahaya. Infeksi ini sering terjadi di abortus kriminalis serta partus yang dibantu oleh dukun yang berasal dari luar puskesmas atau rumah sakit.
d.Escherichia Coli
Seringkali berasal dari rektum dan kandung kemih yang bisa menyebabkan infeksi terbatas di vulva, perineum, dan juga endometriurn. Kuman ini adalah sebab yang penting dari adanya infeksi traktus urinarius.

Gambaran Klinis Infeksi Post Partum
  1. Penderita umumnya demam ataupun perineum yaitu dinding vagina yang mengalami infeksi akan terlihat bengkak dan bernanah, yang menimbulkan nyeri di kerampang.
  2. Infeksi pada bagian yang lebih dalam bisa berupa parametritis, peritonitis, metritis, salpingitis, serta tromboflebitis, yang umumnya diawali dari endometrium. Dan lebih berat lagi bisat terjadi sepsis.

Diagnosis Infeksi Post Partum
Dapat ditegakkan berdasar gejala serta tanda yang diperoleh.

Penatalaksanaan Infeksi Post Partum
  1. Jika ada luka perineum, rawatlah menggunakan Povidon iodin 10%, ataupun kompres Rivanol jika terdapat pus.
  2. Beri antibiotika spektrum luas dengan dosis tinggi:
  3. Ampisilin 2g i.v, lalu 1g tiap 6 jam
  4. Tambah dengan Gentamisin 5 mg/kgBB i.v dosis tunggal/hari serta Metronidazol 500mg i.v tiap 8 jam.
  5. Lanjutkanlah antibiotika hingga ibu tidak panas selama sehari.
  6. Berikanlah uterotonika Ergometrin im yang bisa memperkuat involusi uterus.
  7. Pertimbangkanlah pemberian antitetanus profilaksis.
  8. Berikanlah transfusi dengan Packed Red Cell jika Hb<8g/dl.
  9. Jika dicurigai ada sisa plasenta, lakukanlah pengeluaran
  10. Jika ada pus intraperitoneal lakukanlah drainase, ibu dengan posisi Fowler.
  11. Jika tidak ada perbaikan dengan menggunakan pengobatan konservatif serta ada tanda-tanda peritonitis generalisata segera rujuk ke rumah sakit untuk dilakukan laparotomi serta keluarkan pus.
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai