Rabu, 03 Agustus 2016

Definisi Penyebab Dan Pengobatan Keratitis atau Ulkus Kornea Dalam Kehamilan Menurut Ilmu Kedokteran

Pusatmedik.org - Definisi Penyebab Dan Pengobatan Keratitis atau Ulkus Kornea Dalam Kehamilan Menurut Ilmu Kedokteran – Mungkin sebagian dari anda ada yang belum pernah mendengar mengenai penyakit keratitis atau yang disebut dengan ulkus kornea. Keratitis merupakan peradangan pada kornea mata. Gangguan pada kornea adalah penyakit yang fatal sebab penanganan yang terlambat ataupun tidak sempurna bisa menyebabkan penurunan penglihatan secara permanen, baik ringan sampai kebutaan.
http://www.pusatmedik.org/2016/08/definisi-penyebab-dan-pengobatan-keratitis-atau-ulkus-kornea-dalam-kehamilan-menurut-ilmu-kedokteran.html
Google Image: Definisi Penyebab Dan Pengobatan Keratitis atau Ulkus Kornea Dalam Kehamilan Menurut Ilmu Kedokteran
Komplikasi yang lain dari keratitis yaitu munculnya luka pada kornea atau ulkus kornea. Adapun keratitis bisa diderita oleh seluruh rentang usia, ras, dan jenis kelamin. Berikut ini merupakan penjelasan lengkap mengenai keratitis atau ulkus kornea.

Definisi Penyebab Dan Pengobatan Keratitis atau Ulkus Kornea Dalam Kehamilan Menurut Ilmu Kedokteran


Definisi Keratitis atau Ulkus kornea
Keratitis atau Ulkus Kornea merupakan suatu keadaan infeksi di bagian kornea yang bisa disebabkan oleh infeksi jamur, bakteri, virus dan juga faktor imunologis. Umumnya didahului dengan keadaan trauma pada bagian kornea, penggunaan obat tetes mata yang tradisional, pemakaian lensa kontak, dan penggunaan kortikosteroid topikal yang tak terkontrol

Penyebab Keratitis atau Ulkus Kornea
Keratitis bisa disebabkan oleh proses terjadinya infeksi ataupun adanya peradangan steril (tak ada kuman infeksi menyerang). Terjadinya infeksi pada kornea bisa disebabkan virus, bakteri, jamur, ataupun protozoa. Riwayat trauma di bagian mata juga bisa menyebabkan keratitis, misalnya seperti kemasukan benda-benda asing ataupun tergores akibat pemakaian lensa kontak.

Pemakaian obat-obatan secara sembarangan bisa juga menyebabkan keratitis. Terutama obat-obat golongan atau jenis penekan sistem imun, misalnya seperti kortikosteroid, serta obat-obatan penghilang rasa nyeri. Pemakaian obat-obatan di atas haruslah dengan resep serta pengawasan dokter.
 
Adapun pasien yang menderita penyakit sistemik atau menyerang seluruh tubuh dan menurunkan daya tahan pada tubuh mempunyai risiko yang semakin besar terkena keratitis. Adapun penyakit tersebut diantaranya yaitu diabetes mellitus, HIV/AIDS, serta keganasan (kanker). Di samping itu, kurangnya vitamin A dapat juga meningkatkan risiko munculnya gangguan kornea. Orang-orang yang bekerja di lingkungan perkebunan ataupun pertanian berisiko lebih besar menderita keratitis jamur. Hal tersebut disebabkan oleh jamur yang banyak terdapat di permukaan tanah dan juga tumbuh-tumbuhan.

Gejala Dan Tanda-Tanda Klinis Keratitis atau Ulkus Kornea
Keratitis adalah penyakit mata yang ditandai dengan keadaan mata merah serta penglihatan yang menurun. Berdasarkan dari golongannya, maka gejala-gejala utama dari keratitis yaitu mata yang merah disertai dengan kemampuan penglihatan menurun.

Adapun fungsi kornea adalah sebagai jendela mata sehingga jika terjadi gangguan pada kornea dapat berakibat menurunnya penglihatan. Adanya penglihatan yang menurun adalah salah satu tanda dari penyakit mata yang bisa dibilang serius serta perlu penanganan yang tepat. Adapun gejala umum keratitis diantaranya yaitu nyeri pada mata, mata berair, dan fotofobia. Nyeri pada keratitis terasa lebih berat ketika sedang menggerakan kelopak mata, yang terutama pada kelopak mata atas. Sedangkan fotofobia adalah kondisi mata yang sangat sensitif terhadap cahaya, sehingga menyebabkan pasien merasa silau ketika sedang melihat cahaya.

Sedangkan keratitis yang disebabkan oleh bakteri mempunyai gejala yang hampir sama dengan penyakit keratitis pada umumnya yaitu nyeri, fotofobia, penurunan penglihatan, dan silau. Akan tetapi  pada infeksi bakteri biasanya terdapat cairan yang mengandung nanah atau pus. Sedangkan pada keratitis yang diakibatkan oleh virus, biasanya disertai dengan gejala penyerta misalnya seperti demam dan juga kelemahan pada tubuh. Untuk keratitis jamur, tetlihat gejala berupa kekeruhan yang memiliki batas tidak tegas, serta adanya lesi satelit (kekeruhan berukuran kecil yang ada di sekeliling kekeruhan besar).

Diagnosis Keratitis atau Ulkus Kornea
Penurunan visus serta lesi pada kornea mata.

Penatalaksanaan Keratitis atau Ulkus Kornea
Mengingat pentingnya fungsi dari kornea serta komplikasi keratitis yang berupa kebutaan, maka penatalaksanaan atau pengobatan keratitis tidak boleh dilakukan sembarangan. Berkonsultasilah dengan dokter, gunakan obat sesuai dengan indikasi dari dokter, patuhi pengobatan, serta tidak sembarangan memakai obat tetes mata adalah cara pengobatan yang sangat efektif untuk keratitis.

Adapun pengobatan keratitis umumnya bisa dilakukan dengan cara rawat jalan. Sedangkan pada kondisi tertentu, pengobatan harus dilakukan dengan cara rawat inap. Kondisi tersebut dilakukan jika pasien tidak bisa memakai obat. Di samping itu, jika mata yang menderita keratitis adalah mata satu-satunya (karena mata yang lain telah kehilangan penglihatan) perawatan yang di rumah sakit sangat diperlukan.

Pengobatan keratitis bertujuan untuk mengontrol infeksi serta inflamasi/peradangan, dan juga mencegah komplikasi.  Semua bentuk faktor-faktor risiko dihindari serta dihentikan misalnya seperti penggunaan kontak lens. Adapun salah satu pengobatan penting dalam keratitis yaitu memfasilitasi penyembuhan jaringan pada kornea. Penyembuhan ini sangatlah penting mengingat fungsi dari kornea yang sangat besar dalam proses penglihatan. Adapun beberapa hal yang bisa dilakukan:
  1. Kurangi paparan obat-obatan toksin (bersifat racun bagi kornea) serta yang mengandung bahan-bahan pengawet. Lebih baik memakai obat-obatan dari dokter.
  2. Lapisi dengan menggunakan tetes dari air mata buatan serta salep mata yang tak mengandung bahan-bahan pengawet
  3. Berhentilah merokok.
  4. Berikanlah tetes mata kloramfenikol sebanyak 0,5–1% sebanyak enam kali dalam sehari, minimal dilakukan selama 3 hari
  5. Janganlah diberikan antibiotika ataupun obat-obatan lainnya yang memiliki kandungan kortikosteroid.

Segera rujuk menuju spesialis mata jika:
  1. Rasa nyeri serta mata merah menetap sesudah 3 hari pengobatan
  2. Terlihat lesi putih di bagian kornea
  3. Tetaplah berikan kloramfenikol sebagai tetes mata tanpa melakukan pemasangan verban ketika merujuk menuju dokter spesialis mata.
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai