Rabu, 10 Agustus 2016

Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Konjungtivitis Purulenta Neonatorum Menurut Ilmu Kedokteran

Pusatmedik.org - Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Konjungtivitis Purulenta Neonatorum Menurut Ilmu Kedokteran – Kelahiran bayi adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu, sehinga membuat pasangan suami istri merasa sangat bahagia. Apalagi jika sang buah hati terlahir dengan sehat, akan semakin bahagia lagi hati kedua orang tuanya.
http://www.pusatmedik.org/2016/08/definisi-penyebab-dan-pengobatan-serta-gejala-klinis-konjungtivitis-purulenta-neonatum-menurut-ilmu-kedokteran.html
Google Image: Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Konjungtivitis Purulenta Neonatorum Menurut Ilmu Kedokteran
Lalu bagaimanakah jika bayi lahir dengan kurang sehat? Hal ini tentu membuat orang tua khawatir.Di bawah ini kita akan membahas mengenai penyakit yang sering diderita oleh bayi yang baru saja lahir, yaitu konjungtivitis purulenta neonatorum.

Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Konjungtivitis Purulenta Neonatorum Menurut Ilmu Kedokteran


Definisi Konjungtivitis Purulenta Neonatorum
Konjungtivitis purulenta neonatorum atau disebut juga dengan Oftalmia Neonatorum merupakan suatu infeksi mata yang terjadi pada bayi yang baru lahir dan diperoleh ketika bayi melalui jalan lahir. Adapun gejala biasanya muncul beberapa jam hingga 3 hari setelah bayi lahir.

Penyebab Konjungtivitis Purulenta Neonatorum
Berbagai macam organisme dapat menyebabkan terjadinya infeksi pada mata bayi yang baru saja lahir, akan tetapi infeksi dari bakteri yang memiliki hubungan dengan proses terjadinya persalinan, yang paling sering ditemukan serta berpotensi menyebabkan kerusakan pada mata yaitu gonore atau Neisseria gonorrhea serta klamidia atau Chlamydia trachomatis.

Sedangkan virus yang dapat menyebabkan konjungtivitis neonatorum serta kerusakan pada mata yang berat yaitu virus herpes. Adapun virus ini juga dapat diperoleh ketika bayi melalui jalan lahir, akan tetapi konjungtivitis herpes biasanya lebih jarang ditemukan. Adanya organisme tersebut biasanya ada pada ibu hamil yang menderita penyakit menular seksual atau STD yaitu sexually-transmitted disease.


Baca Juga: Pengertian Definisi Penyebab Dan Gejala Klinis serta Pengobatan Gonore Menurut Ilmu Kedokteran

Saat persalinan, ibu mungkin saja tidak mempunyai gejala-gejala akan tetapi bakteri ataupun virus dapat menyebabkan konjungtivitis pada mata bayi yang akan dilahirkan lahir.

Gejala Klinis Konjungtivitis Purulenta Neonatorum
Bayi baru lahir dan terinfeksi akan mengeluarkan kotoran-kotoran dari matanya yang bisa terjadi dalam waktu antara 1 hari hingga 2 minggu sesudah dia lahir. Bagian kelopak matanya akan membengkak, mata memerah serta akan terasa nyeri jika ditekan.

Gonore dapat menyebabkan terjadinya perforasi kornea serta kerusakan yang sangat memiliki arti pada struktur mata bayi yang lebih dalam.
Adapun gejala lainnya antara lain:
  1. adanya riwayat penyakit yang menular seksual pada sang ibu
  2. dari mata bayi akan keluar kotoran encer serta berdarah (serosanguinosa) ataupun kotoran kental yang menyerupai nanah (purulen).
  3. Sedangkan hasil pemeriksaan pada sekret ataupun kerokan konjungtiva dengan melakukan pewarnaan pada Gram akan memperlihatkan banyak sekali terdapat sel polimorfonuklear. Adanya kuman N.gonorrhoeae yang khas akan terlihat sebagai kokus gram yang negatif dan berpasangan menyerupai biji kopi, yang tersebar baik di luar maupun di dalam sel-sel.

Diagnosis Konjungtivitis Purulenta Neonatorum
Diagnosis bisa ditegakkan berdasarkan dari gejala dan juga hasil pemeriksaan pada mata bayi. Untuk dapat mengetahui organisme penyebabnya, maka bisa dilakukan pembiakan terhadap kotoran-kotoran yang ada pada mata. Dapat juga ditegakkan melalui sekret purulen dengan adanya riwayat ibu mengalami gonore.

Penatalaksanaan Konjungtivitis Purulenta Neonatorum

Pengobatan haruslah segera diberikan dengan cara intensif sebab gonore ini bisa menyebabkan terjadinya perforasi kornea yang bisa berakhir dengan kebutaan pada bayi.
  1. Bayi yang mengalami penyakit ini haruslah diisolasi untuk mencegah terjadinya penularan.
  2. Mata bayi yang menderita penyakit ini dibersihkan terlebih dahulu kemudian diberikan salep mata penisilin tiap 15 menit.
  3. Adapun secara sistemik dapat diberikan penisilin jenis prokain i.m. dengan dosis tunggal yaitu 50.000 IU/kgBB/hari dalam waktu 5 hari.
  4. Sedangkan untuk kedua orang tua yang menjadi sumber infeksi juga perlu diperiksa dan diobati.
  5. Jika pemeriksaan pada sekret sudah negatif selama 3 hari berturut-turut, penderita boleh pulang dan diberikan salep mata yang diteruskan selama 3 kali sehari. Setelah seminggu kemudian jika pemeriksaan pada sekret masih saja negatif maka pengobatan dihentikan.
  6. Antibiotik dengan bentuk topikal baik salep maupun  tetes mata, per-oral atau melalui mulut dan juga intravena atau melalui pembuluh darah, dapat digunakan semua hal ini tergantung pada berat tidaknya nya infeksi serta organisme penyebabnya. Kadang-kadang antibiotik oral serta topikal bisa digunakan secara bersamaan.
  7. Sedangkan irigasi pada mata dengan menggunakan larutan garam normal dapat dilakukan untuk membuang kotoran-kotoran purulen yang telah terkumpul.
  8. Untuk mengobati konjungtivitis yang disebabkan oleh bakteri, maka dapat diberikan salep yang memiliki kandungan polimiksin dengan menggunakan basitrasin, eritromisin ataupun tetrasiklin, yang dapat dioleskan secara  langsung ke mata. Sebanyak 50% bayi yang mengalami konjungtivitis klamidia juga mengalami infeksi klamidia pada bagian tubuh yang lainnya, Oleh karena itu juga perlu diberikan eritromisin secara per-oral atau melalui mulut.
  9. Sedangkan untuk konjungtivitis yang disebabkan oleh virus herpes dapat diobati dengan menggunkan obat tetes mata ataupum salep trifluridin dan juga salep idoksuridin. Selain itu juga bisa diberikan anti virus asiklovir yaitu dengan pertimbangan bahwa keberadaan virus sudah menyebar ataupun akan menyebar menuju ke otak dan juga organ tubuh yang lainnya. Sedangkan untuk salep kortikosteroid tidak boleh diberikan sebab dapat memperburuk infeksi klamidia dan juga infeksi virus herpes.'

Pencegahan Konjungtivitis Purulenta Neonatorum
Adapun konjungtivitis purulenta neonatorum dapat dicegah dengan beberapa cara berikut:
  1. Mengobati dengan segera penyakit menular seksual yang terjadi pada ibu yang sedang hamil
  2. Memberikan obat tetes mata berupa perak nitrat ataupun antibiotik (misalnya saja eritromisin) kepada bayi yang baru saja lahir.
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai