Rabu, 24 Agustus 2016

Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Penyakit Pertusis Menurut Ilmu Kedokteran

Pusatmedik.org - Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Penyakit Pertusis Menurut Ilmu Kedokteran - Pertusis atau yang sering orang sebut sebagai batuk rejan merupakan infeksi bakteri yang terjadi pada paru-paru dan juga saluran pernapasan yang sangat mudah menular. Batuk rejan pernah dianggap penyakit anak-anak ketika vaksin pertusis mash belum ditemukan. Sebenarnya pertusis atau batuk rejan juga bisa diderita oleh orang dewasa, akan tetapi penyakit ini bisa mengancam nyawa jika dialami oleh lansia dan anak-anak, yang terutama bagi bayi yang masih belum cukup usia untuk memperoleh vaksin pertusis.
http://www.pusatmedik.org/2016/08/definisi-penyebab-dan-pengobatan-serta-gejala-klinis-penyakit-pertusis-menurut-ilmu-kedokteran.html
Google Image: Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Penyakit Pertusis Menurut Ilmu Kedokteran
Penyakit batuk rejan memiliki ciri rentetan batuk yang keras dan terjadi secara terus menerus dan diawali dengan tarikan napas yang panjang melalui mulut (whoop). Seseorang dapat menderita batuk rejan sampai tiga bulan, sehingga penyakit batuk rejan ini juga sering disebut sebagai “batuk seratus hari”. Pertusis dapat membuat penderita mengalami kekurangan oksigen yang ada dalam darahnya. Di samping itu bisa terjadi berbagai komplikasi, contohnya pneumonia. Bahkan penderita pertusis dapat secara tidak sengaja menyebabkan luka pada tulang rusuk mereka sebab batuk yang terlalu keras. Pertusis bisa menyebar secara cepat dari penderita ke orang lain. Oleh arena itu, vaksin pertusis sangat diperlukan untuk mencegah masyarakat terkena batuk rejan. Selengkapnya mengenai pertusis dapat anda simak pada ulasan berikut
 

Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Penyakit Pertusis Menurut Ilmu Kedokteran

 
Definisi Pertusis
Pertusis atau Batuk Rejan merupakan penyakit yang akut dan terjadi pada saluran pernapasan. Biasanya didapatkan pada anak-anak dengan usia 5 tahun ke bawah, yang terutama anak–anak usia 2–3 tahun atau balita.

Penyebab Pertusis
Pertusis atau batuk rejan disebabkan oleh kuman jenis gram negatif yaitu Bordetella pertusis. Bakteri Bordetella pertussis dapat menyebar lewat udara. Bakteri ini masuk ke dalam tubuh dan menyerang dinding trakea serta bronkus yaitu percabangan trakea yang akan menuju ke paru-paru bagian kanan dan kiri.

Adapun pembengkakan saluran udara merupakan salah satu cara badan atau tubuh bereaksi terhadap adanya infeksi oleh bakteri. Adanya saluran udara yang bengkak dapat membuat penderita harus sering menarik napas dengan sangat kuat lewat mulut sebab kesulitan bernapas. Hasil dari tarikan napas yang terlalu kuat inilah yang menimbulkan bunyi lengkingan atau whoop yang panjang.

Selain itu cara lain yang dilakukan tubuh ketika bakteri menginfeksi bagian dinding saluran udara yaitu dengan memproduksi lendir yang kental. Tubuh merangsang penderita untuk mencoba mengeluarkan lendir yang kental tersebut.

Gambaran Klinis Pertusis
Adapun gejala penyakit ini dapat muncul 1–2 minggu sesudah berhubungan dengan penderitanya serta didahului dengan masa inkubasi dalam waktu 7–14 hari. Umumnya, penyakit ini dapat berlangsung dalam waktu 6 minggu atau bahkan lebih. Hal itulah yang menyebabkan penyakit tersebut disebut sebagai batuk 100 hari.

Selain itu dalam  perjalanannya,  pertusis  dapat meliputi  beberapa  stadium:

  1. Kataralis yang dapat ditandai dengan timbulnya batuk yang ringan, terutama terjadi pada malam hari, dan disertai demam serta pilek ringan. Pada stadium ini dapat berlangsung dalam waktu 1–2 minggu atau 14 hari. Pada stadium kataral tidak bisa dibedakan dengan ISPA akibat virus.
  2. Stadium Kedua merupakan spasmodik yang dapat berlangsung 2–4 minggu. Adapun gejalanya yaitu batuk yang terjadi lebih sering, penderita akan berkeringat, serta pembuluh darah yang berada di muka-leher akan melebar. Serangan batuknya cukup panjang dan biasanya diakhiri dengan suara melengking yang khas atau whooping caugh dan dapat disertai dengan muntah. Sering sekali terjadi perdarahan subkonjungtiva serta epistaksis. Kuku dan juga bibir penderita menjadi berwarna kebiruan sebab darah kekurangan oksigen. Namun di luar serangan tersebut, penderita terlihat sehat.
  3. Stadium Selanjutnya adalah konvalesensi, yang dapat terjadi sekitar minggu. Gejalanya yaitu penderita mulai mereda batuknya serta berangsur-angsur mulai bertambah juga nafsu makannya sampai kemudian batuk yang dialami hilang.

Diagnosis Pertusis
Diagnosis pertusis dapat ditegakkan dengan melihat hal berikut.

  1. Serum Ig A yang spesifik Bordatella pertusis meningkat
  2. Terdeteksi adanya Bordatella pertusis yang diketahui dari spesimen nasofaring
  3. Terdapat kultur swab nasofaring yang ditemukan Bordatella pertusis
Batuk rejan pada tahap awal biasanya cukup sulit didiagnosis, sebab penyakit flu ataupun bronkhitis memiliki gejala-gejala yang hampir sama. Biasanya dari gejala batuk yang dialami oleh penderita dan juga mendengarkan suara batuk penderita, dokter sudah dapat mendiagnosis batuk rejan.
Dokter juga dapat menambahkan pemeriksaan yang lain, yaitu:

  1. Dilakukan tes darah. Dokter biasanya akan mengidentifikasi adanya peningkatan pada sel darah putih. Selain itu juga untuk menemukan antibodi bagi bakteri Bordetella pertussis yang ada dalam darah penderita.
  2. Mengambil contoh lendir yang berasal dari hidung ataupun tenggorokan penderita. Dokter akan meneliti lendir penderita apakah mengandung bakteri penyebab pertusis yaitu Bordetella pertussis.
  3. Dilakukan pencitraan sinar X yang tujuannya yaitu untuk melihat apa paru-paru penderita meradang atau terjadi penumpukan cairan. Adapun kondisi ini dapat muncul saat batuk rejan mengalami suatu komplikasi dengan pneumonia ataupun infeksi saluran pernapasan yang lainnya.

Penatalaksanaan Pertusis

  1. Pengobatan batuk rejan atau pertusis ditujukan bagi kuman penyebabnya yaitu dengan pemberian antibiotika, misalnya seperti eritromisin dengan dosis 30–50 mg/kg BB sebanyak 4 x sehari.
  2. Keluhan batuk bisa diberikan kodein dengan dosis 0,5 mg/tahun/kali.
  3. Selain itu pertusis bisa dicegah dengan cara melakukan imunisasi DPT (Difteri-Pertusis-Tetanus). Adapun imunisasi ini dapat diberikan sebanyak tiga kali berturut-turut yaitu pada bayi umur 3, 4, dan 5 bulan.
Sekian bahasan tentang Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Penyakit Pertusis Menurut Ilmu Kedokteran, semoga berguna.

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai