Sabtu, 20 Agustus 2016

Definisi Penyebab Dan Pengobatan serta Gejala Klinis Perdarahan Post Partum Menurut Ilmu Kedokteran

Pusatmedik.org - Definisi Penyebab Dan Pengobatan serta Gejala Klinis Perdarahan Post Partum Menurut Ilmu Kedokteran – Ketika seorang ibu berhasil melahirkan seorang bayi, tentu rasanya bahagia sekali.
http://www.pusatmedik.org/2016/08/definisi-penyebab-dan-pengobatan-serta-gejala-klinis-perdarahan-pst-partum-menurut-ilmu-kedokteran.html
Google Image: Definisi Penyebab Dan Pengobatan serta Gejala Klinis Perdarahan Post Partum Menurut Ilmu Kedokteran
Namun setelah melahirkan terkadang seorang ibu menghadapi masalah yang salah satunya yaitu mengalami perdarahan post partum yaitu sebuah keadaan dimana seorang ibu mengalami perdarahan lebih dari 500 ml. Selengkapnya mengenai kondisi ini bisa anda simak pada ulasan berikut.

Definisi Penyebab Dan Pengobatan serta Gejala Klinis Perdarahan Post Partum Menurut Ilmu Kedokteran


Definisi Perdarahan Post Partum
Adapun perdarahan post partum merupakan perdarahan yang lebih dari 500 ml dan terjadi sesudah bayi lahir. Sedangkan perdarahan post partum awal atau dini adalah perdarahan sesudah bayi lahir 24 jam pertama sedangkan persalinan dan juga perdarahan post partum tahap lanjut adalah perdarahan sesudah 24 jam dilakukan persalinan.

Penyebab Perdarahan Post Partum
Adapun penyebab perdarahan post partum bisa disebabkan karena  atonia uteri, retensio plasenta, robekan jalan lahir, kelainan pembekuan darah, dan sisa plasenta.

Gambaran Klinis Perdarahan Post Partum
Selama persalinan sulit untuk menentukan banyak darah secara akurat sebab tercampur air ketuban serta serapan di pakaian ataupun kain alas. Oleh sebab itu jika terdapat perdarahan yang lebih banyak dari biasanya, dianjurkan melakukan pengobatan seperti perdarahan pada post partum.

Diagnosis Perdarahan Post Partum
Adapun diagnosis perdarahan post partum  adalah sebagai berikut.
 

1.Gejala dan tanda Atonia uteri
• Uterus tidak dapat berkontraksi serta lembek
• Perdarahan segera sesudah bayi lahir

Tanda serta gejala yang lain:
• Syok
• Terdapat bekukan darah di serviks ataupun posis telentang dapat menghambat aliran darah menuju luar
 

2.Gejala dan tanda robekan jalan lahir
• Darah segar mengalir segera sesudah bayi lahir
• Plasenta lengkap
• Uterus kontraksi serta keras
Tanda serta gejala yang lain:
• Pucat
• Menggigil
• Lemah
 

3.Gejala dan tanda Retensio plasenta
• Plasenta belum lahir sesudah 30 menit
• Uterus berkontraksi serta keras
• Perdarahan segera
Tanda serta gejala yang lain:
• Tali pusat putus diakibatkan oleh traksi  yang berlebihan
• Inversio uteri yang diakibatkan oleh tarikan
• Perdarahan lanjutan
 

4.Gejala dan tanda tertinggalnya sebagian plasenta ataupun ketuban
• Plasenta ataupun sebagian selaput (memiliki kandungan pembuluh darah) tak lengkap
• Perdarahan segera
Tanda serta gejala yang lain:
• Uterus berkontraksi namun tinggi fundus tak berkurang
 

5.Gejala dan tanda Inversio uteri
• Uterus tak teraba
• Tampak tali pusat (jika plasenta belum lahir)
• Lumen vagina berisi masa
Tanda serta gejala yang lain:
• Neurogenik syok
• Pucat serta limbung
 

6.Gejala dan tanda Endometristis ataupun sisa fragmen plasenta dan perdarahan postpartum sekunder
• Sub-involusi uterus
• Perdarahan
• Nyeri tekan perut bagian bawah dan juga pada uterus
• Lokhia mukopurulen serta berbau
Tanda serta gejala yang lain:
• Anemia
• Demam

Penatalaksanaan Perdarahan Post Partum
1.Pengelolaan Umum

  1. Siapkan sebuah tindakan gawat darurat
  2. Penatalaksanaan persalinan kala III dengan aktif
  3. Minta pertolongan jika petugas lain membantu jika dimungkinkan
  4. Lakukanlah penilaian cepat keadaan umum pada ibu meliputi pernafasan, suhu kesadaran nadi, dan tekanan darah.
  5. Jika terdapat syok lakukanlah segera penanganan
  6. Periksalah kandung kemih, jika penuh kosongkan
  7. Carilah penyebab perdarahan dan juga lakukan pemeriksaan dalam menentukan penyebab dari perdarahan
2.Pengelolaan Khusus
a.Atonia Uteri
Jika seorang wanita mengalami kondisi seperti polihidramnion, makrosomi, kehamilan kembar, persalinan terlalu cepat, persalinan lama, paritas tinggi, persalinan dengan induksi ataupun akselerasi oksitosin, dan infeksi intrapartum maka penting sekali mengantisipasi kemungkinan terjadi atoni uteri postpartum. Apabila tidak memiliki kemampuan dan fasilitas, maka segera dirujuk menuju rumah sakit atau dokter spesialis obgyn.
 

b.Perlukaan Jalan Lahir
Perlukaan jalan lahir dapat diatasi dengan menjahit luka hal ini dilihat dari bagian mana yang robek dan tingkat keparahannya.
 

c.Retensio Plasenta
Prosedur plasenta manual yaitu:

  1. Sebaiknya dilakukan dalam narkosis dan dipasang infus NaCl 0,9% yang dilakukan sebelum tindakan dilakukan. Sesudah desinfektan tangan serta vulva termasuk daerah sekitarnya, labia dibeberkan menggunakan tangan kiri dan tangan kanan dimasukkan dengan obstetrik ke vagina.
  2. Tangan sebelah kiri menahan fundus. Tangan sebelah kanan dengan posisi yang obstetrik menuju ostium uteri serta terus menuju plasenta; tangan menyusuri tali pusat supaya tidak salah jalan.
  3. Sesudah tangan sampai plasenta, maka tangan dipindah ke pinggir plasenta untuk mencari bagian dari plasenta terlepas. Kemudian dengan menggunakan sisi tangan kanan bagian kelingking, plasenta dilepas di bagian antara plasenta yang terlepas serta dinding rahim yaitu dengan gerakan sejajar dinding rahim. Sesudah semua plasenta terlepas, maka plasenta dipegang kemudian ditarik keluar perlahan.
  4. Sesudah plasenta dilahirkan serta diperiksa plasenta lengkap, maka segera lakukan kompresi bimanual uterus lalu disuntikkan Ergometrin 0.2mg i.m/i.v hingga kontraksi uterus baik. Adapun plasenta akreta ditangani menggunakan histerektomi oleh sebab itu harus rujuk ke rumah sakit terdekat.
d.Sisa Plasenta
Adapun sisa plasenta serta ketuban yang tertinggal di dalam rongga rahim bisa menyebabkan perdarahan postpartum dini (biasanya terjadi antara 6–10 hari sesudah persalinan).
Pengelolaan:

  1. Umumnya sisa plasenta dikeluarkan dengan kuretase. Untuk kondisi tertentu jika memungkinkan, sisa plasenta bisa dikeluarkan secara manual. Adapun Kuretase harus dilaksanakan di rumah sakit secara hati-hati sebab dinding rahim cukup tipis dibanding dengan kuretase abortus.
  2. Sesudah selesai tindakan pengeluaran, berikan obat uterotonika lewat suntikan ataupun per oral.
  3. Antibiotika dengan dosis pencegahan sebaiknya juga diberikan.

Sekian informasi tentang Definisi Penyebab Dan Pengobatan serta Gejala Klinis Perdarahan Post Partum Menurut Ilmu Kedokteran, semoga bermanfaat.


Baca Juga: Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Infeksi Post Partum Menurut Ilmu Kedokteran
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai