Selasa, 30 Agustus 2016

Rabies Definisi Penyebab Dan Pengobatan serta Gejala Klinis Penyakit Rabies Menurut Ilmu Kedokteran

Pusatmedik.org - Rabies Definisi Penyebab Dan Pengobatan serta Gejala Klinis Penyakit Rabies Menurut Ilmu Kedokteran – Mungkin sebagian besar dari anda sudah sering mendengar penyakit rabies bukan? Bahkan ada beberapa orang yang karena takut berlebihan dengan penyakit rabies, hampir-hampir tidak mau memelihara anjing dan kucing. Ya, memang benar penyakit rabies bisa ditularkan melalui kucing, anjing, dan kera. Namun tidaklah semua hewan tersebut bisa menularkan rabies. Hanya kucing, anjing ataupun kera yang membawa virus rabies saja yang bisa menularkan penyakit rabies.
http://www.pusatmedik.org/2016/08/rabies-definisi-penyebab-dan-pengobatan-serta-gejala-klinis-penyakit-rabies-menurut-ilmu-kedokteran.html
Google Image: Rabies Definisi Penyebab Dan Pengobatan serta Gejala Klinis Penyakit Rabies Menurut Ilmu Kedokteran
Namun anda tidak perlu takut memelihara 3 hewan tersebut dan untuk menghindari hewan peliharaan tersebut terserang rabies, maka anda bisa memberikan vaksin rabies. Adapun hewan yang terinfeksi rabies bisa dibagi menjadi 2 macam yaitu terkena rabies jinak dan rabies buas. Pada rabies jinak, sejak awal sudah terjadi kelumpuhan lokal ataupun kelumpuhan total. Sedangkan pada rabies buas, maka hewan yang terkena terlihat gelisah dan juga ganas, lalu menjadi lumpuh kemudian mati. Selengkapnya mengenai penyakit rabies ini, silahkan simak pada ulasan berikut ini.

Rabies Definisi Penyebab Dan Pengobatan serta Gejala Klinis Penyakit Rabies Menurut Ilmu Kedokteran


Definisi Rabies
Rabies atau yang sering juga disebut sebagai penyakit anjing gila merupakan penyakit infeksi yang sifatnya akut dan menyerang susunan saraf pusat. Rabies disebabkan oleh sebuah virus dengan nama virus rabies dan dapat ditularkan lewat gigitan hewan penular virus rabies yang terutama sekali hewan anjing, kucing dan juga kera

Penyebab Rabies
Adapun penyebab rabies yaitu virus rabies, termasuk juga rhabdo virus yang sifatnya neurotrop.

Gambaran Klinis Rabies
Adapun gambaran klinis dari rabies yaitu sebagai berikut:

  1. Stadium Prodromal
    Gejala awal dari rabies diantaranya berupa demam, malaise, mual-mual dan juga rasa nyeri yang berada di tenggorokan dalam waktu beberapa hari saja.
  2. Stadium Sensoris
    Penderita merasakan nyeri, rasa panas yang disertai dengan kesemutan di tempat bekas gigitan. Setelah itu disusul dengan gejala seperti cemas dan juga reaksi yang berlebihan dengan rangsangan yang sifatnya sensorik.
  3. Stadium Eksitasi
    Selanjutnya tonus otot-otot serta aktivitas simpatik meningkat disertai dengan gejala hiperhidrosis ataupun banyak berkeringat, hipersalivasi ataupun banyak air liurnya, hiperlakrimasi  ataupun banyak air mata serta dilatasi pupil. Bersama dengan stadium eksitasi ini penyakit mencapai puncaknya. Adapun hal yang sangat khas di stadium ini yaitu adanya bermacam-macam fobia, dan yang cukup terkenal diantaranya yaitu hidrofobia atau takut air.
    Kontraksi pada otot-otot faring serta otot-otot pernapasan bisa pula ditimbulkan oleh adanya rangsangan sensorik misalnya seperti meniupkan udara pada muka penderita atau aerophobia ataupun dengan menjatuhkan sinar menuju mata atau photophobia ataupun dengan bertepuk tangan di dekat telinga penderita atau audiophobia. Di stadium ini bisa terjadi apneu, sianosis, kejang-kejang dan juga takikardi, cardiac arrest, serta tingkah laku penderita seperti tidak rasional terkadang maniakal disertai dengan adanya respons yang berlebihan. Adapun gejala-gejala eksitasi bisa berlangsung hingga pasien meninggal, akan tetapi di saat kematian justru sering kali terjadi otot-otot yang melemas, sehingga menyebabkan terjadinya paresis flaksid pada otot-otot.
  4. Stadium Paralisis.
    Adapun sebagian besar dari penderita rabies meninggal pada stadium eksitasi. Kadang-kadang juga ditemukan kasus tanpa gejala eksitasi, melainkan paralisis pada otot-otot yang sifatnya progresif. Hal ini dikarenakan adanya gangguan saraf pada tulang belakang yang menunjukkan gejala paresis pada otot-otot pernapasan.

Diagnosis Rabies
Adapun diagnosis bisa ditegakkan berdasarkan dari gejala klinis dan juga pemeriksaan dari laboratorium.

Penatalaksanaan Rabies
 
1.Menangani luka gigitan dari hewan penular rabies
Tiap ada kasus gigitan dari hewan penular rabies misalnya seperti anjing, kucing, dan kera haruslah segera ditangani secara tepat. Untuk mengurangi atau membunuh virus rabies yang sudah masuk dalam luka gigitan, maka usaha yang efektif yaitu mencuci luka gigitan menggunakan air (sebaiknya menggunakan air mengalir) serta sabun ataupun deterjen dalam waktu 10–15 menit, lalu diberi alkohol dengan dosis 70%.

2.Memberikan Vaksin Anti Rabies atau VAR setelah digigit atau Post Exposure Treatment.
Adapun dosis serta cara pemberian VAR atau Purified Vero Rabies Vaccine (PVRV) yaitu: Diberikan sebanyak 4 x suntikan masing-masing 0,5 ml di hari ke-0 yaitu sekaligus 2 dosis di regio deltoideus bagian kanan serta kiri, pada hari ke-7 serta 21 masing-masing yaitu 1 dosis yang diberikan secara  intramuskuler  (i.m).  Pemberian dosis  adalah sama  jumlahnya untuk  semua  usia.

3.Perawatan rabies yang dilakukan pada manusia

  1. Pasien rabies harus segera dirujuk menuju ke rumah sakit
  2. Sebaiknya sebelum dirujuk, maka pasien diberikan infus dengan menggunakan ringer laktat ataupun menggunakan NaCl dengan dosis 0,9%, jika perlu dapat juga diberikan antikonvulsan dan selain itu sebaiknya pasien difiksasi saat dalam perjalanan serta waspada terhadap adanya tindak-tanduk dari pasien yang terkadang tidak rasional, dan kadang-kadang juga maniakal yang disertai saat-saat responsif.

Pencegahan Rabies
Adapun langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah rabies dapat dilakukan sebelum terpapar virus ataupun segera sesudah terpapar. Misalnya saja pemberian vaksinasi pada orang-orang  yang memiliki risiko tinggi terkena pemaparan virus diantaranya yaitu petugas laboratorium yang membantu menangani hewan yang terinfeksi, dokter hewan, dan juga orang yang tinggal dalam waktu lebih dari 1 bulan di daerah yang terdapat rabies pada anjing ditemukan.
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai