Selasa, 13 September 2016

Skabies Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Penyakit Skabies Menurut Ilmu Kedokteran

Pusatmedik.org - Skabies Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Penyakit Skabies Menurut Ilmu Kedokteran – Sekarang ini macam penyakit sudah semakin banyak, mulai dari yang tidak menular dan yang menular, mulai dari yang tidak berbahaya sampai yang mematikan. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai penyakit kulit yaitu skabies. Skabies termasuk penyakit yang menular yaitu melalui kontak erat dengan penderitanya. Selengkapnya mengenai skabies ini, silahkan simak uraian berikut.
http://www.pusatmedik.org/2016/09/skabies-definisi-penyebab-dan-pengobatan-serta-gejala-klinis-penyakit-skabies-menurut-ilmu-kedokteran.html
Google Image: Skabies Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Gejala Klinis Penyakit Skabies Menurut Ilmu Kedokteran
Definisi Skabies
Skabies atau yang sering juga disebut sebagai penyakit kulit yang berupa budukan bisa ditularkan lewat kontak erat dengan orang-orang yang terinfeksi. Skabies disebabkan oleh infestasi serta sensitisasi terhadap adanya kutu dengan nama Sarcoptes scabiei var hominis serta tinjanya di kulit manusia.

Adapun sarcoptes scabiei merupakan kutu transparan, bentuknya oval, punggungnya cembung, sedangkan perutnya rata serta tidak bermata. Skabies ini hanya bisa diberantas dengan cara memutus rantai penularan serta memberi obat yang sesuai.

Penyebab Skabies
Adapun kutu Sarcoptis scabiei merupakan penyebab skabies.

Gambaran klinik Skabies
Skabies mempunyai 4 gejala klinis yang utama, yaitu:
  1. Munculnya pruritus nokturna, ataupun rasa gatal yang terjadi di malam hari, hal ini disebabkan aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu lembab.
  2. Skabies bisa menyerang manusia dengan cara berkelompok. Orang-orang yang tinggal di barak-barak tentara, asrama, pesantren dan panti asuhan memiliki peluang  lebih besar menderita penyakit ini. Skabies mudah sekali menular lewat pemakaian handuk, baju dan seprai secara bersama-sama. Penyakit ini mudah sekali menyerang daerah dengan tingkat kebersihan diri serta lingkungan masyarakatnya yang rendah.
  3. Terdapat terowongan-terowongan di bagian bawah lapisan kulit atau kanalikuli, yang bentuknya bisa lurus maupun berkelok-kelok. Apabila terjadi infeksi sekunder yang diakibatkan oleh bakteri, maka dapat timbul gambaran pustul atau bisul kecil. Adapun kanalikuli ini berada di bagian lipatan kulit yang cukup tipis, contohnya sela-sela jari tangan, di daerah sekitar kemaluan (terutama pada anak), di siku bagian luar, di kulit sekitar payudara, di bokong dan juga di bagian perut bawah.
  4. Adapun menemukan kutu saat pemeriksaan kerokan kulit dengan cara mikroskopis, adalah diagnosis pasti penyakit skabies.

Diagnosis Skabies
Dapat ditegakkan dari anamnesis, selain itu juga dari manifestasi klinik dan juga pemeriksaan penunjang yang ditemukan 3 dari 4 macam kriteria berikut:
  1. Gatal pada malam hari
  2. Muncul atau terdapat dalam sekelompok orang
  3. Terdapat predileksi dan juga morfologis yang khas
  4. Ditemukannya Tungau S.scabies

Penatalaksanaan Skabies
Adapun pengobatan skabies adalah sebagai berikut:
Pengobatan skabies menggunakan obat-obatan yang berbentuk krim ataupun salep yang dioleskan di bagian kulit yang telah terinfeksi. Banyak sekali macam obat yang sudah tersedia di pasaran.

Akan tetapi, ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi antara lain yaitu tidak berbau, cukup efektif terhadap semua macam stadium kutu (baik itu telur, larva maupun untuk kutu dewasa), tidak menyebabkan iritasi kulit, juga sangat mudah diperoleh dan yang terakhir adalah murah harganya.
 
Sistemik
  1. Pemberian Antihistamin klasik sedatif yang ringan bertujuan untuk mengurangi gatal, contohnya klorfeniramin maleat dengan dosis 0.34 mg/kg BB sebanyak 3 x sehari.
  2. Diberikan Antibiotik jika ditemukan adanya infeksi sekunder contohnya ampisilin, amoksisilin, dan eritromisin.

Topikal
Adapun obat-obatan yang bisa digunakan antara lain yaitu:
  1. Salep sebanyak 2–4, biasanya diberikan dalam bentuk salep ataupun krim.
  2. Adapun kekurangannya, obat ini dapat menimbulkan bau yang tak sedap (belerang) dan mengotori pakaian, serta tidak efektif membunuh pada stadium telur, dan penggunaannya dilakukan 3 hari berturut-turut atau lebih.
  3. Emulsi benzil-benzoas dengan dosis 20–25%, sangat efektif terhadap semua macam stadium, dapat diberikan setiap malam dalam waktu 3 hari berturut-turut. Adapun kekurangannya, bisa menimbulkan iritasi pada kulit.
  4. Gamexan sebanyak 1%, juga termasuk obat pilihan sebab efektif terhadap semua macam stadium kutu, mudah untuk digunakan, serta jarang sekali menimbulkan iritasi pada kulit.
    Akan tetapi Gamexan tidak dianjurkan untuk wanita hamil dan anak usia 6 tahun ke bawah, karena bersifat toksik atau racun pada susunan saraf pusat. Adapun pemakaiannya hanya satu kali dioleskan ke seluruh tubuh. Bisa diulang lagi satu minggu kemudian jika belum sembuh.
  5. Krotamiton sebanyak 10%, juga termasuk obat pilihan sebab selain mempunyai efek anti-skabies, Krotamiton juga memiliki sifat anti gatal-gatal.
  6. Permetrin HCl sebanyak 5%, efektifitasnya sama seperti Gamexan, akan tetapi tidak terlalu toksik. Adapun penggunaannya cukup sekali, akan tetapi harganya relatif mahal.

Adapun selain penggunaan obat-obatan, yang tak kalah pentingnya untuk diperhatikan yaitu upaya untuk meningkatkan kebersihan diri dan juga lingkungan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara:
  1. Rajin mencuci bersih dan bahkan sebagian dari ahli menganjurkan untuk merebus handuk, seprai dan baju penderita skabies, setelah itu menjemurnya hingga kering. Selain itu dapat juga dilakukan dengan cara menghilangkan faktor-faktor predisposisi, antara lain yaitu dengan cara melakukan penyuluhan tentang higiene perorangan dan juga lingkungan.
  2. Menghindari pemakaian handuk, baju, seprai secara bersama-sama.
  3. Selain itu dengan cara mengobati seluruh anggota keluarga, ataupun masyarakat yang terinfeksi yang bertujuan untuk memutuskan mata rantai penularan.

Pemantauan Skabies
Pasien dianjurkan untuk kontrol 1 minggu kemudian, jika ada lesi baru maka obat topikal bisa diulang kembali.
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai