Kamis, 01 September 2016

Tips cara mengajari mengenal dan mengendalikan emosi si kecil

Pusatmedik.org - Tips cara mengajari mengenal dan mengendalikan emosi si kecil - emosi anak balita terkadang masih belum stabil karena mereka belum mengetahui bagaimana cara paling tepat dalam mengelola dan juga mengekspresikan rasa marah, kecewa, sedih, ataupun bahagia. Tak heran bila si kecil kerap mengamuk ketika keinginannya tidak bisa dimengerti orang tua maupun pengasuhnya. Terlebih lagi pada anak yang masih belum lancar dalam berbicara, pasti akan sangat sulit dalam mengelola emosi.
http://www.pusatmedik.org/2016/09/tips-cara-mengajari-mengenal-dan-mengendalikan-emosi-si-kecil.html
Google Image: Tips cara mengajari mengenal dan mengendalikan emosi si kecil
Hal tersebut tentu akan mengakibatkan balita merasa frustasi dan kerap meledak-ledak. Seorang ibu bisa membantu sedikit demi sedikit dalam mengelola emosi sang anak, agar mereka dapat sedikit lega bila ingin mengespresikan yang akan dirasakannya. Dibawah ini ada beberapa Tips cara mengajari mengenal dan mengendalikan emosi si kecil.

Tips cara mengajari mengenal dan mengendalikan emosi si kecil


  1. Bantu anak mengenal macam-macam emosi.
    Anda bisa memberitahukan pada sang anak secara verbal tentang macam-macam emosi, misalnya menangis saat sedih, tertawa ketika bahagia, serta lain sebagainya. Bila anak terlihat belum mengerti, berilah contoh ekspresi-ekspresi diatas baik dalam ekspresi yang nyata maupun dengan gambar-gambar lucu atau yang mudah dipahaminya.
    Cara tersebut mampu membuat anak anda lebih mengerti terkait macam-macam ekspresi serta emosi secara perlahan. Sehingga anak akan sangat mudah mengeskpresikan yang sedang dirasakannya dengan cara tersebut. 
  2. Menentukan batas ketahanan emosi
    Sebagai seorang Ibu tentunya juga harus memberi batasan dimana seorang anak harus berhenti saat menghadapi emosi yang sedang bergejolak. Seperti anak berulang kali merasa gagal saat menyusun balok, anda bisa meminta anak untuk beristirahat sebentar sebelum mencobanya lagi supaya sang anak tidak frustasi. 
  3. Memberikan contoh nyata
    Orang tua merupakan media pembelajaran seorang anak yang terbaik dan dekat. Sehingga, bila anda ingin anak dapat belajar mengelola emosinya, maka orang tua seharusnya juga mampu menahan emosinya sendiri. Misalnya dengan menunjukkan sikap dewasa ketika menghadapi masalah dengan tanpa marah serta meledak-ledak. Beri contoh pada anak jika mengelola rasa marah dengan cara mengungkapkan isi kemarahan dalam bahsa jelas dan tegas namun tanpa rengekan ataupun ledakan.
    Untuk tambahan, seorang anak juga akan sulit belajar dalam mengelola emosi saat sering mengetahui orang tua yang tampak meledak-ledak atau tak kuasa dalam menahan emosinya. 
  4. Beri dukungan
    Sesudah memberi contoh secara nyata, maka ibu juga harus bisa memberi dukungan yang positif pada anak. Caranya dengan melakukan pengendalian emosi yang konsisten. Bila anak sudah dapat mengendalikan emosinya, maka jangan ragu untuk selalu memujinya atau dengan memberinya hadiah. Ketika anak mampu mengendalikan emosi, maka orangtua harus memberi reward yang berupa pelukan ataupun bisa juga acungan jempol. Hal tersebut bisa menguatkan sang buah hati untuk selalu dapat mengendalikan emosi. 
  5. Kendalikan emosi orangtua
    Sebelum anda mengasah kepekaan dari emosi sang anak, maka orang tua juga harus mampu mengenal serta mengendalikan emosinya sendiri. Pasalnya bagaimana mungkin sang orang tua akan mengajari anaknya untuk mengendalikan emosi sedangkan dia sendiri kerap kehilangan kontrol dengan emosinya sendiri.  
  6. Minta anak mengenali emosinya
    Sehingga dengan mengetahui yang dirasakannya, akan lebih mudah bagi seorang anak dalam mengendalikan emosinya. Misalnya sebagai gambaran, kerap sekali terjadi seorang anak yang uring-uringan tak jelas, dan maunya hanya marah-marah saja walau permintaannya telah dituruti oleh orang tua. Hal ini terjadi disebabkan anak tak mengenal secara baik apa yang sedang dirasakan saat itu. Sehingga orang tua sangat diharapkan mampu membantu anak dalam mengidentifikasi perasaannya.  
  7. Minta anak menyalurkan emosi secara positif
    Ketika mainan sedang dirusak, maka anak tersebut umumnya akan marah-marah atau bahkan memukul. Tunjukkan pada buah hati beberapa alternatif penyaluran dari emosi dengan positif. Jika kesal karena diejek oleh teman, katakan jika mengejek memang kurang baik. Ajari juga anak agar berani mengungkapkan pada sang pengejek, dia tak suka diejek. Bila tak mempan, selanjutnya ajaklah anak agar mencari teman lainnya yang baik serta tak menanggapi ejekan tersebut.
    Kata orang, setiap anak membawa sifat masing-masing. Kata-kata ini sepertinya tak terlalu salah. Banyak memang sifat-sifat anak yang sebaiknya diketahui para orang tua. Dengan begitu, orang tua juga bisa mencari cara menghadapi anak-anak mereka. 
  8. Menghadapi anak yang egois
    Memang sifat egois ataupun keras kepala kerap membuat orang tua hilang kesabarannya. Biasanya, anak egois pasti menang sendiri, tak ingin mendengar orang lain serta harus dituruti seluruh keinginannya. Jika tidak, semua jurus ancaman akan dilontarkan, dari mulai mogok makan, tidak mau belajar hingga berguling-guling di lantai.
    Anda jangan panik dulu jika menghadapi seorang anak yang egois. Tidak perlu marah, namun hadapi secara lembut dan penuh kesabaran. Banyak cara dapat dilakukan dalam menghadapi anak yang bertemperamen keras. Paling penting ialah memberi pengertian serta pengarahan. Ingat, biasanya anak-anak belum bisa membedakan baik buruk sifat. Yang terdapat dalam pikiran anak-anak ialah mengerjakan maupun melakukan sesuatu cuma untuk kesenangannya saja. Jadi, tugas Anda adalah memberi pengarahan serta pengertian pada sang anak. 
  9. Menghadapi anak yang perajuk
    Sama dengan menghadapi anak yang egois, untuk mengatasi anak yang hobinya ngambek pun butuh kesabaran. Bila tidak, maka emosi orang tua dapat terpancing. Sang anak membutuhkan action dari orang tua. Ciri dari anak perajuk ialah suka ngambek serta cenderung cengeng. Itupun hampir sama pada anak yang egois, cuma saja anak perajuk terkadang tidak keras kepala. Umumnya, anak akan ngambek jika orang tua kurang perhatian padanya.

Demikian Tips cara mengajari mengenal dan mengendalikan emosi si kecil diatas dapat anda lakukan jika sikecil mulai bermasalah dengan emosinya.

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai