Jumat, 27 Januari 2017

Hidrosefalus Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Pencegahan Hidrosefalus Menurut Ilmu Kedokteran

Pusatmedik.org - Hidrosefalus Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Pencegahan Hidrosefalus Menurut Ilmu Kedokteran - Hidrosefalus merupakan penyakit yang menyerang bagian organ otak. Penderita penyakit hidrosefalus menderita penumpukan cairan dalam otaknya yang berakibat pada peningkatan tekanan pada otak.
http://www.pusatmedik.org/2017/01/hidrosefalus-definisi-penyebab-dan-pengobatan-serta-pencegahan-hidrosefalus-menurut-ilmu-kedokteran.html
Google Image: Hidrosefalus Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Pencegahan Hidrosefalus Menurut Ilmu Kedokteran
Apabila tak segera ditangani, adanya tekanan ini bisa merusak jaringan serta melemahkan fungsi otak. Lalu apa saja yang bisa menyebabkan hidrosefalus? Bagaimana cara mengatasinya? Jawabannya akan kami ulas dalam artikel kali ini.

Hidrosefalus Definisi Penyebab Dan Pengobatan Serta Pencegahan Hidrosefalus Menurut Ilmu Kedokteran


Definisi
Hidrosefalus merupakan penyakit yang menyerang bagian organ otak. Penderita penyakit hidrosefalus menderita penumpukan cairan dalam otaknya yang berakibat pada peningkatan tekanan pada otak. Apabila tak segera ditangani, adanya tekanan ini bisa merusak jaringan serta melemahkan fungsi otak.

Hidrosefalus bisa dialami oleh segala usia, tetapi umumnya diderita oleh bayi serta manula. Berdasar dari gejalanya,  hidrosefalus bisa dikelompokkan menjadi tiga macam.
  1. Hidrosefalus kongenital
    Keadaan ini terjadi sejak seorang bayi baru dilahirkan. Adapun bayi yang menderita hidrosefalus bawaan, kepalanya terlihat sangat besar. Fontanel atau ubun-ubun mereka tampak menggelembung serta menegang. Karena kulit kepala bayi tipis, maka penggelembungan membuat urat-urat kepala jadi terlihat dengan jelas.
    Bayi dengan hidrosefalus, matanya terlihat seperti memandang bawah serta otot-otot kaki tampak kaku, dan rentan mengalami kejang. Gejala hidrosefalus bawaan lainnya yaitu mudah mengantuk, susah makan, mual, dan rewel.
  2. Hidrosefalus yang didapat ataupun acquired
    Keadaan ini diderita oleh orang dewasa dan anak-anak. Penderita akan mengalami nyeri leher dan mual serta nyeri kepala. Biasanya nyeri kepala ini sangat terasa saat pagi hari, sesudah bangun tidur.
    Gejala-gejala lainnya yaitu mengantuk, sulit menahan kemih penglihatan buram, bingung, sulit berjalan, dan sulit menahan BAB. Jika tak segera diobati, keadaan ini bisa menyebabkan koma, bahkan bisa menyebabkan kematian.
  3. Hidrosefalus dengan tekanan yang normal
    Biasanya keadaan ini dialami manula. Penderita akan kesulitan saat menggerakkan kaki, sehingga menyebabkan beberapa dari mereka menyeret kaki supaya bisa berjalan. Gejala lainnya yaitu kacaunya kendali kemih yaitu ditandai dengan sulit dalam menahan kencing ataupun sering ingin kencing.
    Selain itu hidrosefalus tekanan normal berdampak pada kemampuan berpikir penderita. Sehingga mereka akan kesulitan mencerna informasi serta lambat dalam menanggapi pertanyaan atau situasi.

Penyebab
Beberapa pemicu terjadinya hidrosefalus antara lain:
  1. Buruknya mekanisme dalam penyerapan cairan karena radang ataupun cedera pada otak.
  2. Terhambatnya aliran dari cairan serebrospinal karena kelainan sistem saraf.
  3. Infeksi janin ketika masih dalam kandungan yang dapat menyebabkan radang di jaringan otak janin.
  4. Pendarahan dalam otak.
  5. Tumor otak.
  6. Cedera parah pada kepala.
  7. Penyakit stroke.

Diagnosis
Adapun pemeriksaan hidrosefalus biasanya dilakukan dokter ahli saraf. Biasanya dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan sederhana, misal seperti memeriksa fisik, koordinasi serta keseimbangan pasien, daya pendengaran, penglihatan, indera peraba, serta memeriksa tonus, kekuatan, dan refleks otot. Mungkin dokter juga akan memeriksa keadaan psikologis penderita.

Selain itu untuk memastikan ada tidaknya penumpukan cairan serebrospinal dalam otak ataupun memastikan apakah terdapat kondisi lain yang bisa menyebabkan gejala menyerupai hidrosefalus, dokter bisa melakukan pemindaian otak dengan memakai CT scan, MRI scan, atau USG.

Pengobatan
Pengobatan utama penyakit hidrosefalus yaitu lewat operasi yang tujuannya membuang kelebihan dari cairan serebrospinal dalam otak. Adapun salah satu operasi untuk menangani penyakit hidrosefalus yaitu operasi pemasangan shunt yaitu alat khusus bentuk selang yang dipasang oleh ahli bedah dalam kepala yang tujuannya mengalirkan cairan otak pada bagian tubuh lain yang selanjutnya diserap pembuluh darah. Shunt dilengkapi katup yang fungsinya mengendalikan aliran supaya keberadaan cairan serebrospinal dalam otak tak surut terlalu cepat.

Jenis operasi penanganan penyakit hidrosefalus lainnya yaitu ETV (endoscopic third ventriculostomy) yang fungsinya untuk membuang cairan serebrospinal dengan cara menciptakan sebuah lubang penyerapan baru pada permukaan otak. Prosedur ini umumnya diterapkan pada kasus-kasus hidrosefalus yang dipicu penyumbatan ventrikel otak.
Efek samping yang bisa muncul sesudah menjalani pemasangan shunt antara lain:
  1. Infeksi
    Gejala infeksi setelah pemasangan shunt antara lain sakit kepala, mual, leher kaku, demam, serta nyeri di jalur shunt. Jika infeksi tidak parah, dokter biasanya meresepkan antibiotik. Tetapi jika mengkhawatirkan, maka operasi penggantian shunt mungkin diperlukan.
  2. Penyumbatan
    Apabila shunt tersumbat, cairan serebrospinal bisa menumpuk lagi dalam otak. Keadaan ini haruslah segera ditangani sebab bisa menyebabkan kerusakan otak. Adapun pada penderita bayi, efek samping mudah dikenali dari ciri-ciri fisik, berupa pembengkakan kembali bagian kepala.
    Selain gejala penyumbatan shunt yang lainnya yaitu sakit kepala, mengantuk, mual, bingung, serta yang terburuk yaitu koma. Penyumbatan shunt dapat ditangani dengan operasi shunt yang rusak.
  3. Pengubahan posisi
    Kadang shunt yang dipasang tak berada pada posisi yang tepat. Pada anak-anak, yang terutama bayi, posisi shunt yang salah bisa membuat cairan serebrospinal akan merembes pada bagian sisi selang.
    Jika mereka mengalami luka di kulit, maka cairan itu keluar lewat luka tersebut. Adapun posisi shunt dalam kepala harus secara hati-hati. Apabila tidak, bisa menimbulkan efek samping, berupa pendarahan, gangguan saraf, ataupun kejang.
Efek samping yang terjadi pasca endoscopic third ventriculostomy antara lain:
  1. Masalah saraf yaitu meliputi penurunan fungsi pada salah satu bagian tubuh, penglihatan ganda ketidakseimbangan hormon, atau bahkan epilepsi.
  2. Pendarahan dalam otak.
  3. Kerusakan pembuluh otak.
  4. Infeksi.
  5. Kegagalan otak dalam menyerap cairan serebrospinal.
  6. Menutupnya lagi lubang untuk penyerapan cairan serebrospinal.

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai